Liputan6.com, New York: Tracey dan Vic Dones, warga New York, Amerika Serikat, sedang menanti kehadiran anak mereka. Berbagai persiapan mereka lakukan untuk menyambut si bayi. Tracey juga mengikuti anjuran tentang pantangan yang harus dipatuhi selama hamil.
Dari berbagai majalah tentang kehamilan, Tracey dan Vic mendapat gagasan berani, yaitu menyimpan tali pusar bayi mereka. Hal ini dimaksudkan untuk mengamankan darah yang tertinggal di tali pusar dan plasenta setelah bayi dilahirkan. Selama ini, darah itu diyakini bisa menyembuhkan 70 jenis penyakit yang berlainan, termasuk leukimia dan lymphomas.
Di masa lampau, tali pusar dibuang begitu saja. Namun, belakangan lebih dari 300.000 keluarga menyimpan darah tali pusar mereka. Ini dilakukan agar kelak bila si bayi mengidap suatu penyakit, sel-sel yang terdapat pada darah tali pusat itu lah yang akan memerangi penyakit. Hal ini diungkapkan para ilmuwan setempat.
Namun, harapan itu bukannya tanpa biaya. Untuk menyimpan darah tali pusar, rata-rata bank meminta uang muka sebesar US$ 1.500 hingga US$ 2.000 dolar. Selain itu, biaya perawatan per tahun diperlukan dana US$ 150 hingga U$ 200.
Bayi keluarga Dones akhirnya lahir tanpa kelainan dan diberi nama Anthony. Namun, pada usia 4 bulan fisik Anthony terlalu kecil hingga tidak bisa mengangkat kepala. Tak hanya itu, dia muntah terus-menerus. Dokter menyatakan Anthony menunjukkan gejala osteopetrosis.
Osteopetrosis anak-anak adalah kondisi di mana tulang anak tumbuh lebih tebal dan semakin tebal hingga akhirnya merusak syaraf optik, menyebabkan kerusakan otak, menekan organ-organ, dan dapat mengakibatkan kematian. Satu-satunya pengobatan untuk Anthony adalah mencangkokkan sel dalam sumsum tulang atau darah tali pusat, meski kemungkinan kesembuhan Anthony kecil.
Namun, peluang seorang bayi bisa disembuhkan dengan darah tali pusar sendiri hanya 1 berbanding 100.000. Di bank terbesar di California, AS, hanya 37 dari 100.000 keluarga yang sudah menyimpan darah tali pusat bayinya benar-benar memanfaatkannya untuk transplantasi. Jadi, selain mahal sangat kecil peluang untuk memanfaatkan darah tali pusat bayi.(DNP/Rcm)
Dari berbagai majalah tentang kehamilan, Tracey dan Vic mendapat gagasan berani, yaitu menyimpan tali pusar bayi mereka. Hal ini dimaksudkan untuk mengamankan darah yang tertinggal di tali pusar dan plasenta setelah bayi dilahirkan. Selama ini, darah itu diyakini bisa menyembuhkan 70 jenis penyakit yang berlainan, termasuk leukimia dan lymphomas.
Di masa lampau, tali pusar dibuang begitu saja. Namun, belakangan lebih dari 300.000 keluarga menyimpan darah tali pusar mereka. Ini dilakukan agar kelak bila si bayi mengidap suatu penyakit, sel-sel yang terdapat pada darah tali pusat itu lah yang akan memerangi penyakit. Hal ini diungkapkan para ilmuwan setempat.
Namun, harapan itu bukannya tanpa biaya. Untuk menyimpan darah tali pusar, rata-rata bank meminta uang muka sebesar US$ 1.500 hingga US$ 2.000 dolar. Selain itu, biaya perawatan per tahun diperlukan dana US$ 150 hingga U$ 200.
Bayi keluarga Dones akhirnya lahir tanpa kelainan dan diberi nama Anthony. Namun, pada usia 4 bulan fisik Anthony terlalu kecil hingga tidak bisa mengangkat kepala. Tak hanya itu, dia muntah terus-menerus. Dokter menyatakan Anthony menunjukkan gejala osteopetrosis.
Osteopetrosis anak-anak adalah kondisi di mana tulang anak tumbuh lebih tebal dan semakin tebal hingga akhirnya merusak syaraf optik, menyebabkan kerusakan otak, menekan organ-organ, dan dapat mengakibatkan kematian. Satu-satunya pengobatan untuk Anthony adalah mencangkokkan sel dalam sumsum tulang atau darah tali pusat, meski kemungkinan kesembuhan Anthony kecil.
Namun, peluang seorang bayi bisa disembuhkan dengan darah tali pusar sendiri hanya 1 berbanding 100.000. Di bank terbesar di California, AS, hanya 37 dari 100.000 keluarga yang sudah menyimpan darah tali pusat bayinya benar-benar memanfaatkannya untuk transplantasi. Jadi, selain mahal sangat kecil peluang untuk memanfaatkan darah tali pusat bayi.(DNP/Rcm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar