Minggu, 11 Desember 2011

Benarkah kaum pria penyebar utama HIV/AIDS

SECARA teoritis, dari sudut biologi-anatomis, maupun sosial budaya, wanita akan lebih mudah terinfeksi HIV+ dibanding pria. Namun dari kenyataan yang ada, pengidap HIV maupun penderita AIDS, lebih banyak diderita pria ketimbang wanita.
Tanpa menyebut angka, dr Toha Muhaimin dari Yayasan Pelita Ilmu, mengemukakan untuk HIV+ pria dua kali lipat dibanding wanita, sementara untuk AIDS empat kali lipat jumlahnya.
Berbicara pada seminar mengenai peranan kaum pria dalam penanggulangan HIV/AIDS, staf pengajar FKM UI Depok ini mengemukakan, simbol �kejantanan� justru sering menjadi penyebab kematian kaum pria, bahkan dalam usia muda. Misalnya antara lain karena penggunaan narkoba dan kekerasan. Hubungan seks berusia muda jauh lebih banyak dilakukan kaum pria. Hubungan seks dan narkoba ini akan lebih mengakibatkan pria berisiko tinggi untuk terinfeksi HIV.
Di sisi lain mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan kepala BKKBN Khofifah Indar Parawansa mengemukakan kaum pria memang cenderung mempunyai prilaku berisiko pada penularan penyakit, termasuk infeksi �Human Immunodeficiency Virus�HIV�HIV/AIDS� yang berkaitan dengan pekerjaan yang mengharuskan mereka bepergian jauh dari keluarga.
Kaum perempuan di lain pihak, secara khusus berisiko terkena HIV karena mereka sering tidak memiliki kendali seperti yang dimiliki kaum pria. Kaum wanita tidak bisa menentukan kapan, di mana, dan bagaimana hubungan seks terjadi.
Khofifah, mengemukakan, banyak kalangan pria mungkin tidak berprilaku berisiko, tetapi tanpa pria, HIV hanya mempunyai sedikit kesempatan untuk menyebar.
Menurut data, di dunia diperkirakan lebih dari 70% (di Indonesia sekitar 63%�Red) infeksi HIV terjadi melalui hubungan seks antara pria dan wanita, sebanyak 10% terjadi hubungan antarpria, dan lebih dari 5,0% infeksi HIV terjadi karena pemakaian jarum suntik. Dan empat per lima pengguna narkoba suntikan itu kaum pria.
Hampir 80% wanita dengan HIV/AIDS hanya berhubungan seks dengan satu pria, yakni suaminya. Untuk mereka desakan agar tetap setia jelas sia-sia kalau pria suaminya sebagian di antara mereka mempunyai prilaku seksual berganti-ganti pasangan.
Dengan demikian jelas, pria yang sering melakukan hubungan seks bebas, menempatkan mereka pada posisi risiko terkena HIV/AIDS.
Untuk itu, diharapkan kaum pria mampu menjaga kesehatannya secara mandiri, dan selakigus menjauhi perilaku seks bebas. Termasuk menggunakan kondom bila �ketemu� dengan istrinya. Karena usaha individu merupakan cara cukup signifikan.
Perlu diketahui, penularan HIV/AIDS bukan semata-mata karena hubungan seksual. Jarum suntik para pecandu narkoba yang dipakai bergantian juga sangat potensial untuk menularkan penyakit yang belum ada obatnya tersebut, karena para pecandu tersebut juga berpotensi untuk melakukan hubungan seks bebas.
Di sisi lain, dai Faisal M Ali Nurdin MA mengatakan, dari berbagai penelitian maupun temuan di lapangan, kaum pria sangat berperan pada kian meruyaknya wabah HIV yang kemudian berkembang menjadi AIDS. Hal ini terjadi lewat homoseksual, perbuatan berganti-ganti pasangan, dan penggunaan alat suntuk narkoba.
Mengutip penelitian yang dilakukan K Hein, staf pengajar ada Institut Al-Ghuroba ini, mengemukakan, selama masa remaja rasio yang menderita AIDS antara pria dan wanita berbanding 7:1. Sedangkan pada masa dewasa 12:1. Banyak remaja yang teribat hubungan seksual dengan pasangan orang dewasa yang telah banyak pengalaman seksualnya (promiskuitasnya).
Menjawab pertanyaan peserta seminar, Ali Nurdin dengan tegas mengatakan sebaiknya istri tidak total 100% mencintai suaminya. �Sebaiknya sebagai istri menolak keras untuk berhubungan seks bila tahu suaminya menderita AIDS. Itu tidak berdosa, tidak laknat. Yang laknat justru suami yang akan merusak generasi mendatang itu dengan menularkan HIV/AIDS lewat istrinya,� kata Ali Nurdin.(miol)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar