Mitoni berbeda dengan
ngidoni. Yang satu peristiwa gembira menyambut akan lahirnya seorang anak
manusia, yang lain peludahan serta penghinaan terhadap sesama manusia.
Upacara
MITONI atau selamatan yang menandai tujuh bulan usia kehamilan itu begitu indah
menarik dan mengandung seribu makna. Peristiwanya selalu berbunga-bunga sekaligus
mendebarkan, karena tidak lama lagi, sepasang temanten akan segera menjadi
nyokap dan bokap, sepasang papa mama akan segera menjadi kakek nenek. Mbah
kakung putri akan segera menjadi eyang buyut dan seterusnya.
Adat
Jawa
Wong
Jowo atau orang Jawa itu kreatif dan pandai memaknai segala sesuatunya. Telinga
ini dibilangnya kuping, diartikan sebagai sesuatu yang kaku njepiping, sesuatu
yang kaku dan kaku. Cengkir alias kelapa muda diterjemahkan sebagai kencenging
pikir atau tekad yang keras. Tebu diartikan sebagai antebing kalbu. Pisang ayu
disimbolkan sebagai harapan akan kehidupan yang tata tentrem kerta rahayu,
kehidupan yang indah, bahagia, tentram dan sejahtera. Para pahlawan disebut
kusuma bangsa atau bunga bangsa, sementara para koruptor dicap sebagai kusuma
bangsa...tttt!. Putri solo yang lemah gemulai diibaratkan lumakune koyo macan
luwe, berjalan kalem seperti harimau lapar, sementara putri yang sedang hamil
tua dikatakan seperti bulus angrem, seperti kura-kura sedang mengeram.
Begitu
luasnya daya imajinasi itu sehingga melahirkan banyak ragam tata upacara adat
yang sarat dengan makna simbolik, diantaranya yang menandai siklus kehidupan
manusia sejak masa pra kelahiran. Salah satunya adalah upacara untuk
memperingati usia kehamilan tujuh bulan yang biasa disebut "mitoni"
Orang
Jawa menamai usia kehamilan tujuh bulan itu SAPTA KAWASA JATI.
Sapta-tujuh, kawasa-kekuasaan, jati-nyata. Pengertiannya, jika Yang Maha Kuasa
menghendaki, dapat saja pada bulan ketujuh bayi lahir sehat dan sempurna. Bayi
yang lahir tujuh bulan sudah dianggap matang alias bukan premature. Namun
apabila pada bulan ketujuh itu bayi belum lahir, maka calon orang tua atau
eyangnya akan membuat upacara mitoni, yaitu upacara slametan atau mohon
keselamatan dan pertolongan kepada Yang Maha Kuasa agar semuanya dapat berjalan
lancar, agar bayi didalam kandungan beserta ibunya tetap diberi kesehatan serta
keselamatan.
Pelaksanaan
Mitoni
berasal dari kata pitu yang artinya angka tujuh. Dasar kreatif, kata bilangan
itu kemudian dipakai oleh orang Jawa sebagai simbol yang mewakili kata kerja.
Pitu menjadi pitulungan, bermakna mohon berkat pertolongan dari Yang Maha
Kuasa.
Tahap
pelaksanaannya berurutan, bermula dari siraman, brojolan dan terakhir pemakaian
busana. Sangat cocok dilaksanakan pada sore hari, ngiras mandi sore. dan
dihadiri oleh segenap sanak kadang, para tetangga serta handai taulan.
Siraman
Siram
artinya mandi. Siraman berarti memandikan. Dimaksudkan untuk membersihkan serta
menyucikan calon ibu dan bayi yang sedang dikandung, lahir maupun batin.
Siraman dilakukan di tempat yang disiapkan secara khusus dan didekor indah,
disebut krobongan. Atau bisa juga dilakukan di kamar mandi.
Sesuai
tema, jumlah angka tujuh atau pitu kemudian dipakai sebagai simbol. Air yang
digunakan diambil dari tujuh sumber, atau bisa juga dari air mineral berbagai
merek, yang ditampung dalam jambangan, yaitu sejenis ember bukan dari plastik
tapi terbuat dari terakota atau kuningan dan ditaburi kembang setaman atau
sritaman yaitu bunga mawar, melati, kantil serta kenanga. Aneka bunga ini
melambangkan kesucian. Tujuh orang bapak dan ibu teladan dipilih untuk tugas
memandikan. Seolah tanpa saingan, yang pasti terpilih adalah calon kakek dan
neneknya.
Tanpa
tetek bengek perhiasan seperti anting, ataupun gelang akar bahar, dan hanya
mengenakan lilitan jarit (kain batik), calon ibu dibimbing menuju ke tempat
permandian oleh pemandu atau dukun wanita yang telah ditugasi.
Siraman
diawali oleh calon kakek, berikutnya calon nenek, dilanjutkan oleh yang
lainnya. Dilakukan dengan cara menuangkan atau mengguyurkan air yang
berbunga-bunga itu ke tubuh calon ibu dengan menggunakan gayung yang dibuat
dari batok kelapa yang masih berkelapa atau masih ada dagingnya.
Bunga-bunga
yang menempel disekujur badan dibersihkan dengan air terakhir dari dalam kendi.
Kendi itu kemudian dibanting kelantai oleh calon ibu hingga pecah. Semua yang
hadir mengamati. Jika cucuk atau paruh kendi masih terlihat mengacung, hadirin
akan berteriak: "Cowok! Laki! Jagoan! Harno!" dan komentar-komentar
lain yang menggambarkan anaknya nanti bakal lahir cowok. Namun jika kendi pecah
berkeping-keping, dipercaya anaknya nanti bakal cewek.
Acara
ini bisa berlangsung sangat meriah. Para tamu berdesak ingin melihat dan ramai
berkomentar, sementara sang MC dengan bersemangat menyiarkan berita seputar
pandangan mata.
Siraman
selesai, sang calon ibu yang basah kuyup dari ujung rambut hingga ujung kaki
segera dikeringkan dengan handuk dan hair dryer supaya tidak perlu kerokan,
masuk angin.
Brojolan
Calon
ibu kini berbusana kain jarit yang diikat longgar dengan letrek yaitu sejenis
benang warna merah putih dan hitam. Merah melambangkan kasih sayang calon ibu,
putih melambangkan tanggung jawab calon bapak atau bokap bagi kesejahteraan
keluarganya nanti. Warna hitam melambangkan kekuasaan Yang Maha Kuasa yang
telah mempersatukan cinta kasih kedua orang tuanya. Tidak ada letrek, janur pun
jadi.
Calon
nenek memasukkan tropong (alat tenun) kedalam lilitan kain jarit kemudian
dijatuhkan kebawah. Ini dimaksudkan sebagai pengharapan agar proses
kelahirannya kelak, agar sang bayi dapat mbrojol lahir dengan lancar. Tidak ada
tropong, telur ayam pun jadi.
Dilanjutkan
dengan acara membrojolkan atau meneroboskan dua buah kelapa gading yang telah
digambari lewat lilitan kain jarit yang dikenakan oleh calon ibu. Sepasang
kelapa gading tersebut bisa ditato gambar Kamajaya dan Dewi Ratih atau Harjuna
dan Sembadra atau Panji Asmara Bangun dan Galuh Candra Kirana. Kita tinggal
pilih. Para selebriti perwayangan tersebut dikenal berwajah cantik dan ganteng.
Harapannya adalah agar anak yang lahir kelak bisa keren seperti mereka. Kelapa
yang mbrojol ditangkap oleh salah seorang ibu untuk nantinya diberikan kepada
calon bapak.
Calon
bapak bertugas memotong letrek yang mengikat calon ibu tadi dengan keris yang
ujungnya telah diamankan dengan ditutupi kunyit, atau bisa juga menggunakan
parang yang telah dihiasi untaian bunga melati. Ini melambangkan kewajiban
suami untuk memutuskan segala rintangan dalam kehidupan keluarga.
Setelah
itu calon bapak akan memecah salah satu buah kelapa bertato tadi dengan parang,
sekali tebas. Apabila buah kelapa terbelah menjadi dua, maka hadirin akan
berteriak: "Perempuan!" Apabila tidak terbelah, hadirin boleh
berteriak: "laki-laki!" Dan apabila kelapa luput dari sabetan, karena
terlanjur menggelinding sebelum dieksekusi misalnya, maka adegan boleh diulang.
Pemakaian
Busana
Selesai
brojolan, calon ibu dibimbing keruangan lain untuk dikenai busana kain batik
atau jarit berbagai motif, motif sido luhur, sido asih, sido mukti, gondo suli,
semen raja, babon angrem dan terakhir kain lurik motif lasem. Kain lurik motif
lasem melambangkan cinta kasih antara bapak dan ibunya. Kain-kain yang tujuh
motif tersebut dikenakan bergantian urut satu persatu.
Setiap
berganti hingga kain yang ke enam, pemandu akan bertanya kepada hadirin sudah
pantas atau belum, dan hadirin akan menjawab serentak: "belum!"
Ketika kain ke tujuh atau terakhir dikenakan, yaitu kain lurik motif lasem,
barulah hadirin menjawab sudah. Sudah pantas dan selayaknya.
Keenam
kain lainnya yang tidak layak pakai itu kemudian dijadikan alas duduk calon
bapak ibunya. Gaya pendudukan seperti ini disebut angreman, bukan menggambarkan
bapak melainkan menggambarkan ayam yang sedang mengerami telurnya.
Sebelum
matahari terbenam, sebelum ayam tertidur, seluruh rangkaian upacara ini sudah
dapat dirampungkan, tuntas, tas.
Yayang
Semoderen
apapun jaman ini nantinya berkembang, perasaan ketika kita menantikan hadirnya
seorang cucu pasti tidak akan berubah. Rasanya pasti tetap saja mendebarkan.
Bagaimana tidak, karena sebentar lagi, sepasang papah dan mamah ini akan
menjelma menjadi sepasang kakek dan nenek. Gelar eyang akan segera melekat. Ini
artinya kita musti jaga kelakuan, tidak bisa dan tidak bisa lagi neko-neko. Dan
tidak bisa tidak itu bakal terjadi, sekitar dua bulan lagi setelah upacara
mitoni.
Ketika tiba saatnya nanti, andai bisa
memilih, penulis beserta nyonya lebih suka disebut yayang daripada sekedar
eyang. Yayang artinya eyang yang tersayang. Terdengarnya lebih mesra dan lebih
gaul, gitu loh..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar